Minggu, 06 Januari 2019

ISI MONUMEN KERAMAT KEJAWANAN

1. Benda Cagar Budaya


Benda Cagar Budaya

        Inilah tengara Benda Cagar Budaya yang memutar mata sambil berjalan di depan Monumen Kejawanan, dengan tulisan abad 17 yang merupakan perdebatan yang dibuatnya situs Monumen Kejawanan 



2. Bangunan Joglo Monumen Kejawanan



Bangunan Joglo Monumen Kejawanan



Bangunan Joglo Monumen Kejawanan

      Bangunan Joglo Monumen Kejolak Cirebon yang terlihat mulai menua dan kurang terawat. Cat temboknya yang berwarna merah bata terlihat memudar dan suram, sementara gentengnya masih cukup baik dengan mustaka di puncaknya. Selain pintu masuk yang dipagari bambu berwarna kuning, juga ada pintu masuk di sebelah kiri bangunan. Di balik wuwungan ini, langit-langit bangunan tampak sederhana. Sebagian kayu reng tampak sudah rapuh, patah, dan tinggal menunggu waktu untuk jatuh. Bagian atap bangunan perlu diperbaiki agar tidak semakin parah. Dari pertama dibangun bangunan ini belum pernah ada hanya membangun saja pengecatan ulang.


Ornamen Joglo Monumen Kejawanan

     Hiasan berbentuk mahkota ganda dengan lengkung bergerigi menghiasi puncak wuwungan bangunan berbentuk Joglo di Monumen Kejuangan Cirebon.


3. Pintu Masuk

pintu masuk

       Pintu masuk ke dalam ruangan di dalam Monumen Kejuangan, yang hanya setinggi dada orang dewasa, dilewati di sebelah kanan bangunan, di belakang pintu pagar bambu yang bercat kuning

FASILITAS

1. TOILET


Toilet, Monumen Keramat Kejawanan


Para pengunjung Monumen Keramat Kejadian biasanya menggunakan toilet ini untuk tempat buang air besar dan kecil, tempat cuci tangan dan muka.



2. SUMUR





       Sumur air terletak di belakang keramat. Keguaan air sumur ini bisa untuk menyembuhkan penyakit dan biasanya turis yang akan membawa air sumur ini untuk dibawa pulang untuk membangun rumah bagi orang yang percaya ke inginan tersebut akan terwujud.

NAMA KELOMPOK


-SITI ISMU ALLIMAH
-DIAN ZULFA FADHILAH
-ILHAM AZHAR
-ILHAM MAULIDA SOFA
-SITI MUTMAINAH

Sabtu, 05 Januari 2019

INSTGRAM

<!-- SnapWidget -->
<iframe src="https://snapwidget.com/embed/642702" class="snapwidget-widget" allowtransparency="true" frameborder="0" scrolling="no" style="border:none; overflow:hidden; width:498px; height:332px"></iframe>

VIDEO


Jumat, 04 Januari 2019

SESAJEN


        Salah satu yang menarik dari Keramat Kejang yaitu untuk Tawasul dan meminta Keberkahan melalui kharomah Pangeran Sukmajaya dengan cara melepar uang koin yang dipercayai oleh masyarakat untuk bantuan, keberkahan dan keselamatan. Di tempat ini terdapat kemenyan dan piring petilasan di dinding atau tempat sesajen dengan kucing berwarna merah tua yang bertuliskan sahabat Nabi. Beberapa piring keramik di dinding ini tidak dapat dilihat lagi, lukisan yang ditoreh pada permukaannya. Udara di sekitar Monumen Kejolak memang banyak mengandung garam, karena terletak sangat dekat dengan laut, sangat menentang keawetan piringan keramik di Monumen Kejuangan ini, termasuk jika tidak terhubung dengan semestinya.

Kamis, 03 Januari 2019

SEJARAH

       







Menurut : Raden Putra ( Cupel Monumen Keramat Kejawanan )

       Tanah Negara Cirebon dibagi 2 wewenang antara Sultan Sepuh dan Sultan Anom. Keadaan di Keraton pakungwati selalu ricuh, karena adanya kedua Sultan yang selalu berebut wewenang. Dari itu Pangeran Sukmajaya diangkat sebagai Martani ( Penasehat ) di Kesultanan Cirebon. Martani berpendapat dengan kemampuan Negara Sultan Anom di buatkan Keraton Sebelah Utara diKarang Jimat peninggalan Ki Gede Lemahwungkuk. Keraton ini di sebut Keraton Kanoman pada tahun 1679 M. Dihuni oleh Sultan Anom dan pada waktu Keraton Pakungwati di sebut Keraton Kesepuhan sampai sekarang. Riwayat Pangeran Sukmajaya selaku juru Martani dari Sultan Sepuh ia selalu bertaqwa kehadiran ilahi. Sering-sering bila malam bersemedi di dalam lubang tanah persegi dibawah pohon api-api yang di kelilingi semak-semak niatnya untuk mempertajam kearah Ma Riafatullah yang mempertingkat kesaktian lahir dari keramatullah tempat persemedian itu didukuh siapi-api. Pada tahun 1530 M Belanda V.O.C sudah masuk di Negara Cirebon jaman Dinasti Gouvernoer-General Sppeelman tahun 1681 M. Ia memerintahkan kepada Tuan Vektor dan Kapten Karank untuk mengukub Sultan Sepuh Kesepuhan di dominior oleh Pemerintahan Belanada V.O.C mencampuri warisan yang alasannya akan membantu ketertiban sampai keamanan. 
       Pangeran Sukmajaya untuk melampiaskan dendam yang terkandung dalam hatinya terhadap V.O.C. mengadakan pemberontakan dengan penganutnya, menyerang markas di Cianjur, Sukabumi dan Pasar Gede Bandung jika malam, kadangkala berani juga siang hari Belanda kewalahan menghadapi serangan pemberontakan itu, dalam timbul padam timbul selama 1 tahun lama lama dapat di ketahui oleh pihak Belanda bahwa pimpinan pemberontakan itu yang di sebut Ki Gede mendua dia adalah Pangeran Sukmajaya saudara Sultan Kesepuhan, maka dari itu Tuan besar dari Batavia mengutus tuan Vektor supaya menyelesaikannya dengan Sultan Kesepuhan. Tuan Vektor bahwa kapten karank di Cirebon menghadap Sultan Sepuh menguraikan perihal pemberontakan yang berada di periangan, hal mana Sultan Sepuh dapat mengingatkan kakanya ialah Pangeran Sukmajaya. Bila gagal Kesultanan Kesepuhan dapat di saingi dari kompay Sultan Sepuh meminta waktu selama 1 bulan. 
      Setelah itu segera Sultan Sepuh mengutus Demang Jagabaya dan Lengse ( Ajudan) memanggil abangnya yang sedang melamun itu. Yang di utus sudah sampai bertemu Pangeran Sukmajaya menerima surat dan sudah mengerti maksudnya segera pulang menemui Sultan Sukmajaya.  Rayi 1 adik Sultan, saya tak ridho atas tindakan Belanda perjuanan ku belum pudar. Saya tahu kekuatan kompay pada ukurannya. Pada malamnya Sultan sepuh bersemedi di dalam Agung. Di dalam itu juga Pangeran Sukmajaya mimpi kedatangan Embah Sunan Kali Jaga  melambaikan tangannya dengan tanpa stop. Pagi harinya beliau mengahadap Rayinda Sabdanya "Oh Rayi Sultan, saya tidur semalam dapat ilham di hadiri Embah Sunan Kali Jaga melambaikan tangannya tanpa stop. Saya sekarang tak mau melanjutkan pemberontakan lagi pada kompay Belanda, agar kita selamat dan Keraton lanjut sebagai Kebudayaan Bangsa Jawa Indonesia umumnya". 
      Selanjutnya Sultan Sepuh melapor kepada Pihak Belanda bahwa Pengeran Sukmjaya sudah dapat di tentramkan, namun usul jangan sampai di tindak pidana karena Sultan Sepuh lanjut menjaga keamanannya. Hal tersebut  dapat di terima oleh pihak Belanda seterusnya Pangeran Sukmajaya di tempatkan di Gedung Keputraan berumah tangga.  Sekalipun dengan cara diam diam Pangeran Sukmajaya hati meski terhadap si penjajah Belanda dari itu ia sering-sering sakit nonjok. Maka sebab itu usianya kurang lebih setengah abad wafat.  Penguburan jenazahnya di Gunung Sembung, sebelah barat pengimanan masjid Keramat Astana Gunung Sembung. Beliau tidak meningglkan putra seorangpun.

Review Monumen Keramat Kejawanan by siti ismu allimah

Tanda Benda Cagar Budaya yang bertuliskan Monumen Kejawanan Cirebon tertangkap mata dan menarik perhatian saya selepas mengunjungi Pelabuh...